Beberapa paradoks besar dalam citizen journalism dan media sosial saat ini:
1. Hilangnya "Pagar Api" (Gatekeeping)
Dalam jurnalisme TV yang Anda jalani, ada proses berlapis: reporter, produser, hingga legal/quality control. Ada proses verifikasi dan keberimbangan (cover both sides). Di citizen journalism, pagar itu runtuh. Akibatnya:
Kecepatan mengalahkan akurasi.
Narasi mengalahkan fakta.
Emosi mengalahkan logika.
2. Buzzer yang Menyamar sebagai Jurnalis
Ini yang paling berbahaya. Banyak akun yang terlihat seperti penyampai informasi warga, padahal mereka adalah bagian dari mesin propaganda politik. Mereka tidak bekerja untuk publik, tapi untuk "klien". Mereka menggunakan teknik jurnalisme (seperti wawancara atau investigasi semu) hanya untuk memvalidasi subjektivitas kelompoknya.
3. Jebakan Biner: "Lawan atau Kawan"
Seperti yang Anda katakan, publik dipaksa masuk ke dua kotak: Oposisi (yang pokoknya semua salah) atau Pendukung (yang pokoknya semua benar).
Orang yang mencoba melihat dari realita yang ada—dengan mempertimbangkan konteks, hambatan birokrasi, atau situasi global—sering kali justru diserang oleh kedua belah pihak.
Jika Anda memuji kebijakan yang bagus, Anda dicap "penjilat".
Jika Anda mengkritik kebijakan yang buruk, Anda dicap "pembenci".
4. Realita yang Terpinggirkan
Realita sering kali tidak seksi untuk algoritma media sosial. Realita biasanya memiliki nuansa abu-abu, butuh penjelasan panjang, dan tidak memicu kemarahan. Sementara itu, buzzer dan citizen journalism yang subjektif hidup dari kontroversi. Akibatnya, pertimbangan logis atas situasi yang berlangsung kalah oleh headline yang bombastis dan memecah belah.
Tantangan bagi Media Mainstream
Di sinilah yang menjadi sangat krusial namun sulit. Saat media sosial menarik masyarakat ke kutub ekstrem, media arus utama seharusnya menjadi "The Voice of Reason" (Suara Nalar).
Menjelaskan mengapa sebuah kebijakan diambil (konteks).
Menunjukkan dampak nyata di lapangan (fakta).
Memberikan ruang bagi diskusi yang tidak emosional.
Namun, ketika "kepentingan politik" ikut bermain di media arus utama, maka harapan masyarakat untuk mendapatkan pegangan realitas pun semakin menipis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar